Sejalan dengan tren disinflasi global, bank sentral di berbagai negara mulai mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif dan relatif melonggar tahun 2024 untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk di AS. Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), tercatat telah menurunkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin/bps tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dari rentang 5,25%-5,50% menjadi 4,25%- 4,50%. Penurunan suku bunga acuan bank sentral juga terjadi di Euro Area (2024 sebesar 3,15%; 2023 sebesar 4,50%), Inggris (2024 sebesar 4,75%; 2023 sebesar 5,25%), Thailand (2024 sebesar 2,25%; 2023 sebesar 2,50%), dan Filipina (2024 sebesar 5,75%; 2023 sebesar 6,50%). Tahun 2024 juga diwarnai berbagai gejolak pada pasar finansial global dan Emerging Markets. Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS pada November 2024 sempat menyebabkan tekanan pada pasar finansial Eropa dan Emerging Markets, termasuk Indonesia. Rencana Trump untuk mengenakan tarif terhadap China dan negara-negara mitra dagang AS lainnya dikhawatirkan akan memicu perang tarif global yang dapat menghambat aktivitas perdagangan global, meningkatkan inflasi global, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan Emerging Markets. Sementara itu, peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina, juga menimbulkan tekanan pada pasar finansial dan mata uang negara-negara Emerging Markets, termasuk Indonesia. Inflasi Global (%yoy) 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 Avg. 2019 Avg. 2020 Avg. 2021 Avg. 2022 Avg. 2023 Avg. 2024 3,07 2,97 3,84 8,75 6,92 5,05 4,45 10,34 Jan-19 Mar-19 May-19 Jul-19 Sep-19 Nov-19 Jan-20 Mar-20 May-20 Jul-20 Sep-20 Nov-20 Mar-21 Jan-21 May-21 Jul-21 Sep-21 Nov-21 Jan-22 Mar-22 May-22 Jul-22 Sep-22 Nov-22 Jan-23 Mar-23 May-23 Jul-23 Sep-23 Nov-23 Jan-24 Mar-24 Jul-24 May-24 Sep-24 Nov-24 Gambar 2. Pergerakan Tingkat Inflasi Aktual Global (%) Sumber: Bloomberg Menurut IMF perlambatan ekonomi global terutama terjadi di kelompok negara berkembang (Emerging Markets and Developing Economies), yang pertumbuhannya menurun dari 4,4% tahun 2023 menjadi 4,2% tahun 2024. China dan India, sebagai pendorong utama ekonomi global, mengalami perlambatan signifikan, dengan pertumbuhan ekonomi masing-masing dari 5,2% ke 5,0% dan dari 8,2% ke 6,5% secara berturut-turut. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara maju (Advanced Economies) diperkirakan tumbuh positif sebesar 1,7%, relatif sama dengan tahun sebelumnya. Masih solidnya perekonomian negara maju ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Uni Eropa yang meningkat dari 0,4% pada 2023 menjadi 0,8% tahun 2024. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami sedikit perlambatan menjadi 2,8% pada 2024 dari 2,9% pada tahun sebelumnya. Walaupun mengalami perlambatan pada 2024, pertumbuhan ekonomi global tetap solid, ditopang oleh tren disinflasi, serta kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Tingkat rata-rata inflasi global sekitar 5,05% tahun 2024, lebih rendah dibandingkan tahun 2023 tercatat 6,92% dan 8,75% tahun 2022 (Gambar 2). Penurunan inflasi ini didorong oleh turunnya harga komoditas, membaiknya rantai pasok global, serta dampak dari kebijakan moneter ketat yang mempertahankan suku bunga acuan tinggi di berbagai negara sejak tahun 2022. 193 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Laporan Tahunan 2024
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5